Sri Mulyani Buktikan Pemotongan Anggaran Tak Ganggu Ekonomi

Rabu, 18 Januari 2017 | 17:39 WIB

Sri Mulyani Buktikan Pemotongan Anggaran Tak Ganggu Ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam paparannya pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 18 Januari 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5 persen. Menurut Sri, angka tersebut dapat dicapai apabila pertumbuhan pada kuartal IV melebihi 4,7 persen pada 2016. Bank Indonesia memperkirakan, ekonomi pada kuartal IV mencapai 4,9 persen.

“Sehingga, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi pada 2016 dapat mencapai 5 persen atau lebih sedikit,” kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat di kompleks parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 18 Januari 2017.

Baca : Ditanya DPR Soal Tarif STNK-BPKB, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Sri Mulyani menjelaskan, apabila pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen, hal tersebut menunjukkan pemotongan anggaran yang dilakukan pada Agustus lalu tidak mempengaruhi perekonomian. “Walaupun ada pengurangan belanja pemerintah, pertumbuhan masih lebih besar dari 2015.”

Pada 2016, Sri Mulyani menambahkan, konsumsi rumah tangga membaik karena inflasi termasuk rendah, yakni 3,02 persen. Sementara itu ekspor-impor, pada kuartal III dan IV, menunjukkan pelemahan yang tidak sedalam pada 2015 dan awal 2016. “Masih terdapat negative growth pada kuartal IV.”

Baca : Peringatan Sri Mulyani Soal Efek Kebijakan Ekonomi Trump

Menurut Sri Mulyani, inflasi yang dicapai sepanjang 2016 ini termasuk rendah, terendah dalam satu dekade terakhir. Hal itu didukung oleh kestabilan harga barang-barang yang diatur pemerintah. “Kami perlu mewaspadai inflasi dari harga komoditas yang mudah bergejolak,” katanya.

Dari sisi neraca perdagangan, Sri Mulyani berujar, ekspor turun 3,9 persen dan impor pun turun 4,94 persen. Penurunan impor yang cukup dalam itu disebabkan oleh turunnya impor barang modal dan bahan baku. “Berarti, sektor produksi masih tertekan. Ini yang perlu dimonitor,” tuturnya.

Ke depan, Sri Mulyani ingin memperbaiki kualitas belanja, baik dari penyerapan maupun efektivitas. Proyeksi penerimaan, kata dia, juga perlu dibuat seakurat mungkin. “Oleh karena itu, reformasi perpajakan, baik dari sisi pajak maupun bea cukai, penting. Pembiayaan juga akan dilakukan dengan hati-hati.”

ANGELINA ANJAR SAWITRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *